Kamis, 03 April 2008

Provinsi Jawa Timur Kabupaten Situbondo

Sumber : http://pilkada.golkar.or.id/index.php?action=view&pid=kota&idk=232


SEBAGAI daerah yang berbatasan dengan Selat Madura di sebelah Utara dan Selat Bali di sebelah Timur, Situbondo memiliki garis pantai kurang lebih 150 kilometer. Dengan letak geografis yang dimiliki itu usaha kelautan dan perikanan yang meliputi penangkapan ikan, pengolahan hasil laut, pembenihan budidaya air laut serta air payau masih mungkin dikembangkan.

USAHA penangkapan ikan laut di Situbondo tersebar pada desa-desa di 13 kecamatan pantai. Eksplorasi kekayaan laut yang dilakukan sekitar 13.000 nelayan daerah ini pada tahun 2001 menghasilkan 13.189 ton ikan laut, meningkat 25,8 persen dibanding tahun sebelumnya. Ikan hasil budidaya tambak menghasilkan 2.155 ton, budidaya kolam 20 ton, dan penangkapan di perairan umum 15 ton. Peningkatan ikan hasil penangkapan di laut antara lain disebabkan motorisasi dan modernisasi alat tangkap. Selain 1.022 perahu layar, nelayan Situbondo memiliki 1.385 perahu motor dan 16 kapal motor.

Nelayan banyak memperolah ikan tongkol (3.999 ton), layang (3.526 ton), kembung (1.149 ton), dan lemuru (1.107 ton). Digabung dengan sekitar 10 jenis ikan yang lain, seluruh produksi ikan laut hasil tangkapan itu bernilai Rp 103,89 milyar. Ikan tongkol memberikan nilai tertinggi Rp 33,57 milyar, disusul ikan kerapu Rp 25,50 milyar, serta ikan layang Rp 19,15 milyar.

Pemerintah kabupaten menyediakan 30 pangkalan pendaratan ikan (PPI) sebagai sarana pendukung kegiatan penangkapan ikan. Salah satu fasilitas PPI adalah tempat pelelangan ikan (TPI). Tidak semua PPI memiliki TPI. Situbondo memiliki tujuh TPI yang tersebar pada tujuh desa di lima kecamatan: Besuki, Suboh, Panarukan, Jangkar, dan Banyuputih. Bila dibandingkan dengan produksi, ikan yang dilelang di TPI relatif kecil. Volume ikan yang dilelang tahun 2001 sebanyak 92,2 ton dengan harga lelang Rp 140,69 juta.

Selain sebagai daerah penghasil ikan, Situbondo juga menerima ikan basah dan ikan kering asin dari kepulauan di daerah Madura dan Sulawesi Selatan, sepe yang terdiri dari 1.767 ton udang wrti Masalembu, Masalima, Raas, dan Sepudi. Volume ikan dari pulau-pulau itu yang masuk ke Situbondo setidaknya 2.000 ton.

Situbondo–karena belum memiliki pabrik pembekuan ikan - mengirim udang hasil tambak indu dan 209 ton udang putih ke pengusaha cold storage di Surabaya dan Sidoarjo. Di daerah itu kedua jenis udang yang masing-masing bernilai Rp 97,22 milyar dan Rp 6,2 milyar mengalami pemrosesan sebagai bahan siap ekspor. Selain Surabaya, daerah tetangga lain seperti Jember dan Malang menjadi pasar ikan segar dan ikan olahan Situbondo. Tidak kurang dari 5.000 ton ikan segar dan 3.000 ton ikan olahan berbentuk pindang dan kering asin dikirim ke daerah-daerah ini. Ikan olahan yang dipasarkan ke daerah tetangga itu hanya separuh dari seluruh hasil ikan olahan kabupaten ini yang pada tahun 2001 terdiri dari 6.000 ton pindang dan 1.000 ton ikan asin.

Pemerintah kabupaten melihat potensi kelautan dan perikanan, meskipun kontribusi kegiatan ini masih berada dibawah tanaman pangan dan tanaman perkebunan. Dari sembilan lapangan usaha yang membentuk Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Situbondo, sektor pertanian merupakan kontributor utama.

Nilai yang dihasilkan dari kegiatan itu tidak kurang dari Rp 716,80 milyar. Nilai ini setera dengan 34,58 persen nilai PDRB yang jumlahnya Rp 2,07 trilyun.

Sektor perdagangan, hotel dan restoran berada di tempat kedua. Nilai tiga kegiatan ekonomi yang tergabung dalam satu sektor itu sekitar Rp 647,24 milyar. Di antara ketiganya, perdagangan memberikan nilai 87 persen yakni Rp 566,13 milyar. Komoditas yang menggerakkan kegiatan perdagangan besar dan eceran ini berasal dari produk tanaman bahan pangan, seperti beras dan palawija, serta hasil industri pengolahan seperti gula produksi empat pabrik gula di Situbondo, dan industri olahan ikan pindang.

Ikan pindang menjadi salah satu produk unggulan kabupaten yang mampu menembus pasar regional dan nasional, terutama memasok pasar swalayan. Untuk mendukung itu didirikan unit pemindangan ikan Pondok Mimbo di Kecamatan Banyuputih. Unit pemindangan yang ditunjang oleh peralatan modern ini berlokasi di lahan 1.000 meter persegi.

Alat pengukusan, rak-rak penirisan, dan berbagai alat yang diperlukan untuk pemindangan, semua terbuat dari bahan anti karat. Dana yang dibutuhkan untuk membangun unit pemindangan ini antara lain berasal dari bank dunia yang dihibahkan oleh pemerintah pusat sebesar Rp 525 juta. Dengan kapasitas produksi dua ton per hari, Situbondo berharap pada tahun 2003 ikan pindang Pondok Mimbo menjadi salah satu buah tangan Provinsi Jawa Timur.

Keseriusan pemerintah daerah memanfaatkan sumber daya hayati membuahkan hasil. Kabupaten Situbondo terpilih menjadi daerah aplikasi informasi zona potensi ikan harian berdasarkan teknologi penginderaan jauh.

Metode penginderaan jauh yang dirintis oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) sejak tahun 1999 dan mulai operasional tahun 2002 ini dimaksudkan untuk mengembangkan ekonomi masyarakat nelayan.

Nelayan Situbondo bersama nelayan dari daerah pilihan lain -Bengkulu, Pekalongan, Bali, lima kabupaten di Pantai Selatan Jawa Barat, Makassar dan Manado- dapat melaut dengan bekal informasi zona potensi penangkapan. Diharapkan dengan bekal teknologi tersebut nelayan bisa meningkatan hasil tangkapan.

Nelayan Situbondo telah membuktikan keakuratan lokasi ikan yang diperoleh dari alat bantu navigasi Global Positioning System (GPS). Dalam satu malam melaut nelayan yang biasanya memperoleh 100 kilogram ikan kini memperoleh 400 kilogram. Sedangkan yang biasanya memperoleh 400 kilogram meningkat menjadi 3 ton.

Masyarakat Pesisir Undang Menteri Nelayan

DARI sebuah perkampungan pesisir hampir di ujung timur Pulau Jawa, sekelompok nelayan tanpa segan-segan minta bantuan kepada tamu yang datang ke Desa Semiring, Kecamatan Mangaran, Kabupaten Situbondo, menyampaikan salam mereka.

"Tolong disampaikan salam dari masyarakat nelayan kepada Pak Rokhmin Dahuri. Kapan mau berkunjung ke perkampungan nelayan di pesisir desa ini," seru Ny Suhatibah yang mengaku wakil masyarakat pesisir.

Prof Dr Ir Rokhmin Dahuri yang disebut-sebut masyarakat di perkampungan nelayan itu adalah Menteri Kelautan dan Perikanan. Keberanian masyarakat nelayan dan pesisir ingin didatangi karena kedekatan dan latar belakang Pak Rokhmin Dahuri sebagai anak nelayan masih lekat di hati nelayan dan masyarakat pesisir.

Sejak masyarakat nelayan memiliki menteri sendiri, nasib nelayan dan masyarakat pesisir mendapat perhatian nyata dari pemerintah. Selama ini, mereka mengaku terpinggirkan dan tidak ada lembaga keuangan, terutama perbankan yang bersedia memberi kredit untuk modal perbaikan perahu/kapal dan peremajaan mesin.

Kecuali yang bersedia memberi "pertolongan", antara lain rentenir dengan bunga tinggi, dan pengambek yang membuat ketergantungan dan nelayan tidak bisa berbuat banyak, sebab hasil tangkapan ikan di laut dijual kepada mereka dengan harga dibawah harga pasar.

Setelah ada Lembaga Ekonomi Pengembangan Pesisir Mikro Mitra Mina (LEPP-M3) yang difasilitasi Departemen Kelautan dan Perikanan melalui Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pesisir (PEMP), mulai ada angin segar bagi nelayan. Meski belum semua bisa dijangkau, tetapi sudah ada yang memperhatikan kesejahteraan nelayan dan masyarakat pesisir .

Undangan itu sekilas ingin memamerkan peningkatan perkembangan PEMP di desanya. "Kalau dulu sewaktu memasuki musim barat nelayan akan menghadapi musim paceklik, piring serta perabot rumah tangga lainnya "berterbangan" guna memenuhi kebutuhan sehari-hari. Setelah memperoleh bantuan permodalan untuk pengembangan usaha lewat kelompok masyarakat pemanfaat (KMP), masyarakat sekitar perkampungan nelayan mulai ada perbaikan nasib," tambah H Ibnu.

KABUPATEN Situbondo memang dipengaruhi oleh kondisi alam dan geografis yang menguntungkan untuk pengembangan usaha dengan memanfaatkan sumber daya alam pantai dan pesisir. Wilayah kabupaten ini yang berbatasan langsung dengan laut Selat Madura yang memanjang dari ujung barat hingga ujung timur, atau mulai Kecamatan Banyuglugur di barat sampai Kecamatan Banyuputih di timur, memiliki panjang pantai sekitar 150 kilometer.

Sedangkan kedalaman daratan, antara bibir pantai dengan perbatasan wilayah kabupaten lain rata-rata 11 kilometer. Amat pantas kalau Kabupaten Situbondo memperoleh julukan "Kabupaten Pesisir", yang semakin mantap karena berada di jalan utama antara Surabaya– Banyuwangi dengan sifat kehidupan yang dipengaruhi oleh dua sifat, yakni darat dan laut.

Definisi pesisir, kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Situbondo Ir Edi Santoso MM, menandakan adanya kehidupan di dalam masyarakat di daratan yang dipengaruhi oleh sifat kehidupan laut. Begitu pula sebaliknya, kehidupan masyarakat pantai atau laut juga dipengaruhi oleh sifat kehidupan di darat.

Oleh sebab itu, harapan peningkatan pemberdayaan ekonomi masyarakat bertumpu pada sektor kelautan, namun untuk menuju masyarakat pesisir yang mandiri secara ekonomi harus disusun kelembagaan yang dikembangkan dalam masyarakat dengan mengoptimalkan potensi lokal dan sumber daya alam yang tersedia.

Potensi alam yang patut dikembangkan adalah sektor kelautan dan perikanan, yang terdiri dari 37 desa dari 132 desa di kabupaten itu. Seitar 17.232 keluarga nelayan yang setiap hari terlibat dalam kehidupan pencarian dan penangkapan ikan di laut sekitar Selat Madura.

Keluarga nelayan itu melengkapi diri dengan 1.037 unit perahu layar dan 1.537 unit perahu bermotor. Setiap tahun mampu memproduksi sekitar 13.189 ton ikan dengan kebutuhan bahan bakar solar sekitar 2.358.000 liter.

Kalau dihitung-hitung penghasilan keluarga nelayan tersebut setiap tahun sekitar Rp 2,6 juta. H Ibnu warga Dusun Kalbut, Desa Semiring, Kecamatan Mangaran mengaku, penghasilan nelayan dipengaruhi oleh keadaan cuaca di laut. Jika cuaca sedang bersahabat nelayan akan mendapat ikan lebih baik, tapi sebaliknya ketika angin barat tiba masa paceklik menghantui kehidupan nelayan.

Masyarakat nelayan dan pesisir memang memerlukan perhatian menyeluruh karena keterbatasan sumber daya manusia serta permodalan. Lembaga Ekonomi Pengembangan Pesisir Mikro Mitra Mina (LEPP M3) yang dikelola profesional diharapkan mampu memberi semangat baru untuk memperbaiki taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat nelayan dan pesisir.

Kehidupan nelayan sangat keras dan penuh risiko sehingga sulit mendapat permodalan untuk mengembangkan sarana dan prasarana melalui perbankan. Perbankan pun tidak ingin mengambil risiko besar bila berhubungan langsung dengan nelayan. Hadirnya LEPP M3 merupakan harapan baru sebagai darah segar kehidupan masyarakat nelayan dan pesisir.

Kabupaten Situbondo memperoleh dukungan dana awal LEPP-M3 melalui program PEMP sebesar Rp 643.500.000, merupakan dana ekonomi produktif yang harus disalurkan sebagai pinjaman kepada Kelompok Masyarakat Pemanfaat (KMP). Tahun berikutnya memperoleh tambahan dana ekonomi produktif Rp 800 juta.

Ini dimanfaatkan tidak kurang sekitar 424 orang yang terlibat di dalamnya. Tahun ini masyarakat masih akan mendapat dana sejenis, sehingga ditambah hasil perputaran dana tersebut, LEPP-M3 mengakumulasikan modal untuk dana ekonomi produksi Rp 3,5 milyar.

Kemampuan mengelola LEPP-M3 inilah yang membuka niatan masyarakat pesisir di Desa Semiring, Kecamatan Mangaran mengundang menteri yang dikenal berasal dari keluarga nelayan melalui Direktur Pemberdayaan Masyarakat Pesisir Sudirman Saad dan anggota Komisi III DPR belum lama ini.

Tidak ada komentar: